Chapter 525
Li Fan berjalan di dalam Grand Dao Sect, pikirannya dipenuhi segala macam pikiran.
Di mana-mana, sekte itu dihiasi lentera dan spanduk, akhirnya mengurangi kesuraman suasana akibat bencana-bencana belakangan ini.
Setiap kali para disciples berpapasan dengannya, mereka berhenti di tempat dan membungkuk penuh hormat. Li Fan membalas dengan sapaan anggukan setiap kalinya.
Sebagai Dao companion dari Sect Master, Li Fan telah mendapatkan akses ke sumber daya kultivasi yang melimpah—sesuatu yang hanya bisa diimpikan oleh kebanyakan cultivator. Meskipun rasa hormat yang ditunjukkan kepadanya tak selalu tulus, setidaknya itu formalitas yang diperlukan.
Namun saat ini, Li Fan sudah bulat dengan keputusannya. Ia harus mencari kesempatan untuk kabur dari Grand Dao Sect, dan itu harus segera.
"Senior Sister Zhao baru saja dipromosikan jadi Sect Master dan sedang sibuk menangani berbagai urusan di dalam sekte. Perwakilan dari sekte lain juga berdatangan memberi ucapan selamat, dan dia harus meluangkan waktu untuk menemui mereka," batinnya.
"Saat ini, dia sedang paling sibuk, jadi kecil kemungkinannya memperhatikan aku."
"Akalau aku melewatkan kesempatan ini, begitu dia punya waktu luang..."
Begitu pikiran itu terlintas, Li Fan mengambil keputusan dengan tegas.
Dua hari kemudian, ia memanfaatkan momen ketika tak seorang pun memperhatikannya dan diam-diam menuju pintu keluar sekte, sendirian.
Menoleh ke belakang menatap Grand Dao Sect, ingatan akan Senior Sister Zhao—yang telah ia temani lebih dari seratus tahun—terlintas di benak Li Fan. Ia ragu sejenak.
Tapi pada akhirnya, ia mengertakkan gigi dan terbang pergi.
Ia melesat ke timur dengan kecepatan penuh hingga akhirnya meninggalkan batas wilayah Grand Dao Sect.
Perasaan berbahaya yang selama ini menghantui hatinya perlahan mulai menguap.
"Instingku benar!" batinnya.
Tapi baru saja ia merasa sedikit lega karena berhasil kabur, tiba-tiba dua berkas cahaya muncul di belakangnya dan mengejar dalam sekejap. Dalam sekejap mata pula, berkas-berkas cahaya itu mendarat di hadapannya, menghalangi jalannya.
"Kau mau pergi ke mana, junior nephew?" ujar seorang pria tua beralis panjang sambil tersenyum menatap Li Fan.
"Uncle Dong, Uncle Jiang..." Wajah Li Fan berubah muram.
Keduanya adalah elders Grand Dao Sect, bagian dari tujuh belas cultivator inti sekte yang telah mencapai tahap Dao Integration Stage.
Sepertinya rencana pelariakannya sudah terbongkar.
Meskipun begitu, Li Fan belum siap menyerah.
"Ha-ha, begini, biar kujelaskan kepada kalian berdua, elders. Meskipun aku merasa terhormat Senior Sister dipromosikan menjadi Sect Master, akhir-akhir ini aku merasa sedikit risau."
"Status Senior Sister Zhao sekarang sudah tinggi, dan kekuatannya terus bertambah setiap hari. Sebagai Dao companion-nya, aku masih cuma di tahap Soul Transformation Stage. Pasti orang-orang akan bergunjing. Tekanannya sudah tak tertahankan."
Sambil memamerkan wajah yang dipura-purakan penuh duka, Li Fan perlahan menghampiri kedua elders itu. "Sekte sedang membangun kembali, dan semua orang punya perannya masing-masing. Tapi aku cuma menganggur setiap hari, benar-benar..."
Tanpa peringatan, cahaya abu-abu yang kacau melesat dari kedua matanya, menghantam wajah Uncle Dong dan Uncle Jiang secara langsung.
Itu adalah serangan dari teknik jahat yang dikuasai Li Fan—Soul-Cutting Divine Light, bagian dari "Soul-Severing Divine Radiance Art".
Teknik itu secara langsung menargetkan divine soul seorang cultivator. Meskipun lawannya berada di tahap Dao Integration Stage, Li Fan yakin mereka bakal menderita kerugian besar karena lengah.
Tanpa menunggu melihat reaksi mereka, ia langsung mengaktifkan "Godlight Escape Technique", berusaha melesat kabur dengan kecepatan penuh.
Tapi dengan ngeri, Li Fan segera menyadari bahwa ruang di sekitarnya sudah sepenuhnya disegel entah sejak kapan. Meskipun teknik pelariakannya cepat, ia tak punya ruang untuk bergerak.
Uncle Dong dan Uncle Jiang rupanya sudah mengantisipasi serangan diam-diam Li Fan. Masing-masing menggenggam sebuah cermin treasures di tangan, yang memantulkan kembali Soul-Cutting Divine Light dan meniadakan efeknya.
Saat mereka menatap Li Fan, mata mereka dipenuhi olok-olok.
"Bagaimana Sect Master memperlakukanmu, junior nephew, sudah jelas bagi seluruh sekte. Tapi kau tetap memilih mengkhianati dia..."
"Andai Sect Master mendengar ini, aku penasaran betapa remuk hatinya."
Sebelum Li Fan sempat berusaha melakukan apa pun, kedua elders itu menggabungkan kekuatan mereka untuk melumpuhkannya, membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun.
"Hidupku sudah tamat!" batin Li Fan, keputusasaan meliputi seluruh pikirannya.
Ketika mereka membawanya kembali ke sekte, ia tidak menjumpai Senior Sister Zhao.
Sebaliknya, kultivasinya langsung disegel, dan ia dilemparkan ke sebuah secluded chamber—yang pada dasarnya merupakan penjara.
Meskipun disebut "secluded chamber", tempat itu tak ubahnya sel tahanan.
Awalnya, Li Fan mengira ia akan segera dipertemukan dengan Senior Sister Zhao, dan ia pun menyusun ratusan kata di dalam kepalanya, berharap kelicikannya bisa menyelamatkan nyawanya.
Tapi yang tak ia sangka adalah, Senior Sister Zhao—dan bahkan seluruh Grand Dao Sect—seakan sudah benar-benar melupakannya.
Tak seorang pun datang menjenguknya.
Dalam keterisolasian chamber itu, tidak ada apa pun—tidak ada apa pun selain dirinya sendiri.
Ia tak bisa berkultivasi. Setiap kali ia berusaha memusatkan pikiran atau merenungkan divine abilities, suara-suara menghina dan mencemooh bergema dari dinding, memecah konsentrasinya.
Tampak jelas, ini adalah cara untuk mencegahnya lepas dari kultivasi yang tersegel.
Awalnya, Li Fan masih bisa mempertahankan ketenangan. Tapi seiring waktu berlalu, bahkan tekadnya mulai goyah.
Kebosanan lambat laun berubah menjadi kegelisahan, lalu kemarahan. Pada akhirnya, ia menjadi gila.
Ia menghempaskan dirinya ke dinding-dinding keras chamber itu, berulang kali, hingga tubuhnya menjadi berlumuran darah. Tapi sia-sia.
Akhirnya, mata Li Fan menjadi kosong, tanpa kehidupan. Ia duduk tanpa bergerak di lantai, bagaikan sebuah patung tanpa jiwa.
Tak bisa dipastikan sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi pada suatu hari, pintu chamber yang sudah lama tersegel itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Untuk waktu yang lama, tak seorang pun masuk.
Namun Li Fan berpura-pura tak melihatnya. Ia tetap diam, mengabaikan pintu yang terbuka itu.
Baru setelah lebih dari sepuluh hari berlalu, sedikit kilau kehidupan kembali muncul di matanya.
Dengan susah payah, ia bangkit berdiri. Tubuhnya gemetar saat ia melangkah gontai ke arah pintu keluar.
Karena sudah lama tak berjalan, tubuhnya lemah, dan ia langsung jatuh terjungkal ke tanah.
Ia berusaha bangkit kembali dan mengambil satu langkah lagi, hanya untuk jatuh lagi.
Dengan cara demikian—merangkak dan terhuyung-huyung—ia akhirnya berhasil keluar dari sana.
Grand Dao Sect di hadapannya tampak persis seperti yang ia ingat.
Disciples berkeliaran di antara puncak-puncak gunung, berkultivasi. Tempat itu tampak lebih ramai dari sebelumnya.
Tapi...
Semuanya sunyi secara mengerikan.
Tak satu pun suara terdengar di seluruh penjuru sekte. Seolah-olah semua cultivator yang tinggal di dalamnya telah kehilangan kemampuan bicara.
Atau mungkin...
Mereka semua memiliki pikiran yang sama dan tak lagi membutuhkan cara "rendah" nan kasar yang disebut bicara.
Bahkan kontak mata atau divine sense pun tak diperlukan. Mereka saling memahami satu sama lain dengan sempurna tanpa cara-cara seperti itu.
Li Fan terhuyung-huyung melewati sekte.
Setelah dipenjara entah berapa lama, penampilannya sudah benar-benar berantakan.
Namun tak satu pun dari mereka tampak memperhatikannya. Mereka melanjutkan saja urusan masing-masing, seakan Li Fan tak pernah ada.
Perasaan ditolak oleh semua orang di sekitarnya menggerogoti benak Li Fan tanpa henti.
Pada akhirnya, setelah mengembara ke seluruh sudut sekte dan tetap tak menemukan orang yang dicarinya, Li Fan tak bisa menahan diri lagi.
"Senior Sister!"
"Di mana kau, Senior Sister?!"
Butuh waktu lama baginya untuk sekadar mengingat cara bicara.
Lalu, dengan suara yang parau, ia meraung dalam kemarahan.
Suaranya makin lama makin keras, bergema ke seluruh penjuru sekte.
Dan kemudian, setiap cultivator di sekte itu menoleh untuk menatapnya.
Akhir Chapter 525
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *