🌙Lunovel
My Longevity Simulation
Ch 1777: Truth and Falsehood - ID
Chapter 1777

Truth and Falsehood - ID

1.134 kata·~6 menit baca·0% selesai

Detik kilauan bintang terakhir ditelan, segalanya menghilang.

Seluruh pemandangan, seluruh suara dari dunia di luar sana, sekadar berhenti ada.

Kegelapan dan keheningan yang murni, tak tercemar menyelimuti Zhang Fan, mutlak dan menyeluruh.

Di luarnya, tidak ada apa-apa.

Bahkan konsep waktu pun larut menjadi ketiadaan.

Setelah keabadian keheningan mati, bisikan samar mulai bergerak di tepi pendengarannya.

Dalam kontras yang mencolok dari keheningan yang sedalam itu, suara itu bagaikan deru petir tiba-tiba.

"Ini..."

Suara itu terasa aneh familiar bagi Zhang Fan, namun ia tak bisa mengidentifikasinya.

Meski hanya sekejap yang berlalu sejak ia menyatukan seluruh eksistensi, bagi Zhang Fan, rasanya seperti usia yang tak terhingga telah berlalu.

Bahkan ingatan-ingatannya pun mulai membusuk, kabur di tepi-tepinya.

Secara naluriah ia berusaha mendengarkan, memahami suara itu.

Awalnya seperti kicauan tajam seekor jangkrik pertama, lalu diikuti oleh paduan suara ribuan jangkrik.

Sekejap sebelumnya, itu hanyalah bisikan belaka; sesaat kemudian, menggembung menjadi simfoni agung dan megah yang bergema merambah kehampaan.

"Xuanyuan Hong... Fate Slayer Lord... the Fishing Old Man..."

Nama-nama yang familiar namun asing mengapung di benaknya, satu per satu.

Ia tersendat, seberkas keraguan dalam kesadarannya.

Zhang Fan tidak lagi mengingat siapa orang-orang ini.

Tapi teriakan putus asa dan serak mereka menyampaikan urgensi yang ekstrem, seolah mereka berusaha memberitahukan sesuatu yang vital kepadanya.

Merasa emosi mentah dalam suara-suara itu, Zhang Fan mencoba menenangkan pikirannya, menyaring hiruk-pikuk suara lainnya.

Tapi itu upaya yang sia-sia.

Segera, suara-suara familiar itu tenggelam, ditelan oleh ombak besar yang menyusul.

Suara-suara baru mulai muncul.

Baik familiar maupun asing.

Mereka begitu familiar hingga ia bisa menyebutkan nama-nama mereka dengan lantang, namun begitu asing hingga tak satu pun kenangan tentang mereka tersisa dalam pikirannya.

Perasaan samar bahwa ada yang salah menyelinap ke dalam hati Zhang Fan.

"Aku..."

"Apakah aku... membusuk?"

Dalam sekejap itu, Zhang Fan terjatuh ke dalam keraguan dan kebingungan yang sangat mendalam.

Tiba-tiba ia mengingat tujuannya.

Membunuh True God.

Ambisinya dahulu tetap segaharu selalu. Setelah berhasil menelan Mountain and Sea dan memadamkan Star, kekuatannya, keadaan keberadaannya, pikirannya sendiri—semuanya telah mencapai puncak.

Ia telah siap sempurna, siap untuk konfrontasi terakhir dengan True God yang telah jatuh menurut desas-desus.

Tapi ia tak pernah membayangkan...

Tidak ada True God.

Yang menantinya bukanlah seorang dewa, melainkan kegelapan sepi yang tak berujung.

Sekejap meregang menjadi keabadian.

Tubuhnya, kesadarannya, mulai membusuk dan hancur.

Dan di dalam dirinya, segala yang pernah ia telan mulai bergerak, terjaga kembali.

Ini sangat jauh dari yang ia bayangkan.

Seolah ia telah ditipu, ledakan kemurkaan ganas meletus dalam dirinya.

"Tampakkan dirimu!"

"Tampakkan dirimu, sialan!"

Ia mengaum, dikonsumsi oleh amarah yang gaib.

Namun bahkan ia sendiri tak bisa mendengar teriakannya.

Kehampaan gelap tetap ada, kekal tak berubah.

Bagaikan laut senyap dan beku, perlahan memakannya.

Dalam sekejap itu, Zhang Fan merasakan dingin yang menusuk tulang memancar dari kegelapan, dingin yang menembus hingga ke inti jiwanya.

Ia merasakan kelemahan mendadak dan mendalam, seolah pondasi eksistensinya sendiri hancur berantakan di bawahnya. Secara naluriah ia mencoba terengah-engah, menarik napas.

Tapi mustahil untuk menghentikan kemerosotan itu.

Paduan suara di telinganya semakin kuat, semakin padat.

Mereka berkumpul bagaikan awan badai, menutupi segalanya.

Zhang Fan merasa seperti seekor leviathan yang sekarat.

Seluruh kekuatan hilang, tak mampu berjuang, terbaring tak berdaya di atas bumi.

Ditinggal untuk dipanggang matahari yang menyengat, dagingnya membusuk, dan lalat bangkai memakan bangkainya.

"Aku... sedang sekarat."

Realisasi itu menghantamnya dengan kejelasan yang menggigit.

Dan bersamanya, rasa tidak berdaya yang mendalam melonjak dalam dirinya.

"Aku bekerja keras, merangkak naik dari sebuah klon bagaikan semut. Aku menelan penciptaku, menelan Mountain and Sea, memadamkan Star. Aku di ambang kedewaan!"

"Bagaimana aku bisa mati seperti ini, begitu tak masuk akal?"

Geram, Zhang Fan mengayunkan tangannya, mencoba mengusir lalat-lalat yang berkerumun di tubuh metaforisnya.

Tapi mengulurkan lengannya hanya menjadikannya tempat berkembang biak bagi lebih banyak lalat.

Tindakannya tidak memperbaiki keadaannya;

Sebaliknya, itu hanya memperkuat paduan suara suara di sekelilingnya.

Suara mereka bagaikan ombak pasang.

Meski tentangan mengamuk dalam dirinya, ia bisa merasakan keberadaannya sendiri memudar, melemah—sebuah gelinciran tak terbendung menuju kehampaan.

Dalam deliriumnya, ia pikir mendengar suara—suara pengunyahan yang mengerikan, mengguncang jiwa.

Seolah ada entitas raksasa di kegelapan yang secara diam-diam memangsanya.

Berbeda dengan gerogotan panik lalat, makhluk ini makan dengan pelan, sengaja, hampir elegan.

Bahkan ada semikit ejekan di dalamnya, seolah ia dengan tenang menikmati kejatuhan Zhang Fan, "dewa baru" ini.

Bagaikan disiram setember ember air es di tengah musim dingin, kemarahan tak terbatas di hati Zhang Fan langsung padam.

Yang tersisa hanyalah ketakutan.

Pada saat ini, tak ada pikiran untuk melawan yang bisa terbentuk di benaknya.

Satu-satunya insting yang tersisa adalah desakan putus asa untuk berjuang, untuk meloloskan diri dari rahangnya.

Tapi pemangsahan itu tak terbantahkan, bagaikan takdir yang tak bisa dihindari.

Zhang Fan hanya bisa menonton dengan pasrah, dengan kejelasan sempurna, saat setiap jengkal tubuhnya dikunyah, diremukkan, dan ditelan.

Lalu, dicerna.

Dengan pencernaatan tak berwujud ini, segala yang pernah ia telan tercabut keluar.

Pada akhirnya, hanya Zhang Fan sendiri yang tersisa.

Sesaat kemudian, bahkan Zhang Fan sendiri hampir sepenuhnya ditelan.

Bebas dari beban yang pernah ia telan, harapan bertahan hidup yang tiba-tiba dan putus asa mengalir dalam dirinya.

Ia telah melupakan banyak hal; bisa dikatakan ia telah melupakan hampir segalanya.

Tapi ada satu hal yang masih ia ingat.

"Truth..."

"Truth... dan falsehood..."

Itu bagaikan lampu berkedip di kegelapan, lemah dan goyah, tapi memancarkan cahaya singkat pada pikiran-pikiran yang terpecah.

"Truth dan falsehood... sebuah Dao mark?"

Ia samar-samar mengingat sebuah dunia di mana Dao [Truth and Falsehood] sedang dikandung.

Dunia itu di ambang kelahiran, tapi karena berada dalam Mountain and Sea, ia tak pernah bisa berhasil.

Dalam proses menjadi dewa, ia tidak menelan dunia itu.

Ia hanya membiarkannya ada.

"Tempat itu masih ada!"

Bagaikan melihat seberat harapan, bara terakhir keberadaan Zhang Fan menyala kembali.

Ia berusaha membuka matanya, mencoba menemukan satu tempat perlindungan yang mungkin di kegelapan tak terbatas.

"Di sana!"

Ingatannya kembali, dan segera Zhang Fan menemukan sasarannya.

Sebuah dunia abadi mengapung di keheningan.

Seolah telah ada di sana sejak kelahirannya.

Tak berubah sepanjang masa.

Si pemakan diam di kegelapan tidak memperhatikannya.

Bagaikan seorang pria menemukan tali penyelamat terakhir, sisa kesadaran Zhang Fan melawan kekuatan pemangsahan dan dengan cepat mencapai dunia abadi itu.

Itu hanyalah satu sudut kecil keberadaan, namun membawanya kedamaian yang tak pernah ia kenal.

Segala ancaman dari dunia luar lenyap dalam sekejap. Melawan segala kemungkinan, Zhang Fan telah selamat.

Kegelapan surut, dan waktu mendapatkan kembali maknanya.

Zhang Fan menjadi kuat sekali lagi.

Ia, setelah semua, adalah makhluk yang telah memakan seluruh Mountain and Sea, yang bahkan telah menelan Star.

Bahkan sebagai sisa yang hampir punah, kekuatannya sangat besar.

Ia perlahan mendapatkan kembali ketenangannya.

Segala yang baru saja ia alami bagaikan mimpi buruk.

Bahkan sekarang, Zhang Fan tidak bisa memahami apa yang terjadi.

Tapi aura [Truth and Falsehood] yang familiar yang memancar dari dunia abadi ini membawainya gelombang ketenangan.

Akal sehatnya perlahan kembali.

"Apakah itu benar-benar berhasil lahir?"

Itu adalah pikiran normal pertama yang muncul di benak Zhang Fan.

Akhir Chapter 1777

Komentar (0)

Memuat komentar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0/5000