The Templar Knight and the Fiancée
Kegelapan. Kegelapan yang teramat dalam. Di dalam kegelapan itu, seorang pemuda perlahan memulihkan kesadarannya.
Di mana? Tempat apa ini? Di mana aku?
Semakin jernih kesadarannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Kegelapan tanpa batas yang menyelubunginya membisu, tak memberi jawaban. Harapan di hatinya meredup. Ia mencoba memeriksa dirinya sendiri, namun bahkan tubuhnya pun tak terlihat. Kebingungan di hatinya tak terelakkan membengkak.
Tunggu—siapa aku? Siapa aku sebenarnya? Kenapa… kenapa aku terkurung di sini?
Kesabarannya menipis seiring kesadarannya yang semakin utuh. Kegelapan ini memang aman, tapi tak pernah berubah sedikit pun. Seperti sangkar yang mengurungnya. Wajar saja jika ia mulai ingin merobek keluar dan lari dari tempat ini.
Aku ingin keluar! Tapi ke mana? Apakah ada jalan yang bisa kutempuh? Apakah jalan keluar itu benar-benar ada?
Seolah menjawab kebingungannya, seberkas kecil cahaya mulai muncul di dalam kegelapan. Warnanya jingga, keberadaannya nyaris tak terasa. Namun di dalam kegelapan yang mutlak, sekecil apa pun cahaya itu, ia tetap menonjol.
Cahaya itu menyita seluruh perhatiannya. Ia berjuang mendekat ke arah kerlip tersebut. Entah berapa lama berlalu, ia merasa sudah semakin dekat—cahaya jingga itu tampak sedikit lebih besar daripada sebelumnya.
Dari mana asalnya? Apakah cahaya itu bisa membawaku keluar dari sini?
Kerinduannya untuk lepas dari kegelapan membuatnya mendekat dengan semakin bernafsu—
"Howl!" Sebuah lolongan binatang yang mengguncang bumi mendadak menggetarkan seluruh kegelapan itu.
Seperti hewan kecil yang terkejut, cahaya jingga itu seketika padam. Akibatnya, pemuda itu terbangun. Begitu matanya terbuka, yang ia lihat adalah seekor serigala raksasa menerjang turun dari langit dengan mulut terbuka lebar.
Pikirannya kosong; tubuhnya bergerak bahkan sebelum rasa takut punya kesempatan muncul. Ia berguling, lalu menendang. Pada saat itu, seluruh tubuhnya bagai sebuah ballista, dengan kedua kakinya melesat keluar seperti anak panah raksasa.
Buk! Kakinya menghantam lambung serigala raksasa itu, dan hanya dengan satu serangan, serigala itu terlempang jauh. Ia lalu menekankan kedua telapak tangannya ke tanah dan mengangkat tubuhnya dalam satu gerakan mulus.
Ada orang?
Begitu berdiri, ia melirik sekeliling dengan cepat dan menemukan seorang gadis. Hanya satu lirikan saja—tak ada waktu untuk berpikir lebih jauh. Serigala raksasa itu adalah ancaman besar yang membuat jantungnya berdegup keras. Rasa takut dengan cepat menggenangi hatinya.
Ini magic beast tingkat Silver!
Krisisnya belum berakhir, jadi tatapan pemuda itu terpaku pada serigala tersebut.
Byur. Terkena tendangan, serigala raksasa itu tak bisa mengerahkan tenaga di udara. Tubuhnya melengkung di udara lalu tercebur ke sungai. Bukan hal yang aneh—mereka memang sedang berada di tepi sungai, cukup dekat dengan air.
Ketika serigala buas itu jatuh ke sungai, lolongannya justru berubah menjadi teriakan ketakutan yang ganjil. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berkelepak di dalam air, berusaha secepat mungkin naik ke tepian.
Tiba-tiba, bayangan-bayangan hijau menyeruak dari dalam air. Bayangan hijau itu setebal ular piton, dan dengan hentakan mendadak, mereka mengangkat gelombang raksasa yang tak terhitung jumlahnya. Aura mereka pun tersingkap—aura Gold yang menggetarkan hati. Nyaris seketika, bayangan-bayangan hijau itu membelit serigala Silver tersebut, lalu menariknya masuk ke dalam air.
Gelegak, gelegak, gelegak. Permukaan sungai tak lagi tenang; riak-riak keruh terguncang. Tak lama kemudian, warna merah tua merekah seperti bunga—darah serigala itu. Darahnya menyebar cepat mengikuti pusaran arus.
Hanya dalam beberapa tarikan napas, suara serigala itu lenyap sepenuhnya dan permukaan sungai kembali tenang. Darahnya melebur ke dalam air keruh, lalu pudar terbawa aliran. Setelah itu, keheningan kembali menguasai sekitar.
Seolah tak pernah terjadi apa pun. Serigala keji itu menghilang, dan bayangan hijau misterius itu menyembunyikan diri sekali lagi. Seakan pertarungan hidup dan mati sesaat lalu tak pernah ada.
Pemuda yang menyaksikan semua itu terguncang hebat.
Serigala Silver yang buas dan river vines tingkat Gold—tempat iblis macam apa ini?!
Dengan hati yang bergidik, ia mulai menilai sekelilingnya sebelum akhirnya berbalik ke arah gadis itu. "Di mana ini?" tanyanya.
Gadis itu masih membeku, terguncang oleh semua yang baru terjadi. Baru setelah mendengar pertanyaan pemuda itu ia tersadar.
"My Lord!"
Ia begitu bergembira hingga langsung menghambur ke dalam pelukan pemuda itu, meninggalkannya kebingungan sejenak saat menatapnya.
"Syukurlah, my Lord, akhirnya Anda bangun!" Gadis itu memeluknya erat. "Lord, Anda bangun!"
Pemuda itu menepuk-nepuk pundaknya, lalu mendorongnya perlahan agar sedikit menjauh. Gadis itu memandangnya dengan kegembiraan dan keterkejutan yang melimpah. Dan ketika pemuda itu menatap gadis di dalam pelukannya, jantungnya seolah melewatkan satu denyut.
Wajah mungilnya dipenuhi kelembutan, matanya merah dan hampir menitikkan air mata, sementara iris ungunya mengingatkan pada permata berharga. Ada sejumput pesona di dalam kilaunya.
Sepertinya serigala keji itu benar-benar membuatnya ketakutan.
Saat perasaan lembut merambat di hatinya, pemuda itu bertanya, "Maaf… siapa kau?"
Gadis itu terpaku. Matanya melebar tanpa bisa ia tahan sambil menatap pemuda itu tanpa bergerak. Beberapa detik mereka hanya bertukar pandang.
Melihat wajah pemuda itu yang sungguh-sungguh dan dipenuhi kebingungan, ekspresi gadis itu perlahan berubah menjadi terkejut dan khawatir. Ia bergegas memperkenalkan diri, "Ah, saya Zi Di, my Lord. Saya tunangan Anda."
"Tunangan?" Pemuda itu mengernyit. Ia tahu apa arti tunangan; ia hanya tak menyangka gadis ini memiliki hubungan seintim itu dengannya. "Zi Di…" gumamnya lirih.
Namun nama itu terasa sepenuhnya asing bagi dirinya. Semakin ia menggali, semakin dalam kerutan di dahinya. "Tunggu sebentar, aku… siapa aku?"
Ia baru menyadari bahwa ia bahkan telah melupakan identitasnya sendiri. Ketika ia mencoba menarik ingatannya, pikirannya terasa benar-benar hampa—seolah tak pernah ada apa pun di sana.
"Anda adalah Zhen Jin, Baron Zhen Jin. Ya Tuhan! Your Lordship, apakah Anda melupakan segalanya, termasuk identitas Anda sendiri?"
"Zhen Jin, aku Zhen Jin? Kenapa aku tak mengingat apa pun?" Pemuda itu mengernyit, merasa amat bingung dan resah.
"Ya Tuhan! Kenapa ini bisa terjadi?!" Zi Di pun ikut kebingungan. Namun kemudian, mata ungunya memancarkan kilau berpikir. Ia menggeleng dan berkata, "Mungkin… kepala Your Lordship terbentur keras, sehingga ingatan Anda hilang untuk sementara. Kasus semacam ini pernah terjadi sebelumnya.
"My Lord, beberapa hari lalu kapal kami karam. Ada badai hebat; kapalnya terbalik lalu terbelah. Para penyintas terdampar di pulau ini… banyak yang hilang, termasuk Anda, my Lord. Saya menyusuri jejak Anda melewati hutan hujan ini untuk mencari Anda. Tapi ketika saya menemukan Anda, Anda sudah tak sadarkan diri, dan berbagai cara yang saya coba tak mampu membangunkan Anda.
"Tunggu. Mungkin karena cara saya membangunkan Anda terganggu di tengah prosesnya. Kalau memang begitu, saya mohon ampun, my Lord. Saat itu saya benar-benar tak punya pilihan lain."
Ia menunjuk ke dada Zhen Jin—masih banyak serpihan kristal yang menempel di sana.
Zhen Jin menundukkan kepala, melihat pecahan kristal itu, lalu berkata, "Jadi, kau yang menyelamatkanku?"
Gadis itu melanjutkan, menceritakan segala yang dilaluinya, hingga saat-saat terakhir ketika ia mengambil risiko besar untuk mengobatinya dengan kristal putih tersebut. Kata-kata itu seketika membuat pemuda itu semakin menghormatinya.
"Jadi kita berada dalam bahaya sebesar itu, dan semuanya berkat kau, um… Zi Di." Pemuda itu menyebut nama gadis itu dengan lembut.
"Tapi my Lord, mungkin justru karena itulah ingatan Anda hilang," bisik Zi Di, masih dipenuhi kekhawatiran dan rasa bersalah.
"Apa benda-benda ini?" tanya Zhen Jin penasaran sambil menggenggam serpihan kristal itu.
"Angel tears," jawab Zi Di. Menurutnya, itu adalah magic artifact tingkat cukup tinggi. "Pulau ini sangat aneh; baik magic maupun battle qi tak bisa digunakan. Ketika saya memakainya untuk membangunkan Your Lordship, saya juga sedang berjudi," jelasnya.
"Magic restriction domain?" Zhen Jin mendapati pengetahuan umumnya masih utuh. Ia menggeleng dan berkata, "Tak ada magic restriction domain yang mutlak. Yang penting adalah menilai seberapa kuat kekuatannya."
"Benar, my Lord." Zi Di menatap serpihan di tangannya. "Artifact tingkat tinggi seperti angel tears masih bisa digunakan di sini, walau dengan susah payah. Magic saya hanya tingkat Iron, dan lingkungan di sini menekannya sampai saya sama sekali tak bisa memakainya."
Mungkinkah cahaya di dalam kegelapan yang kulihat tadi berasal dari kristal ini? tebak pemuda itu, mengingat kembali keadaannya saat tak sadarkan diri.
"My Lord, izinkan saya memeriksa kondisi tubuh Anda." Zi Di melanjutkan memperkenalkan dirinya, "Saya seorang magician tingkat rendah. Meski saat ini tak bisa menggunakan magic, pengetahuan saya masih ada."
Zhen Jin mengangguk. Para magician biasanya sangat terpelajar, bahkan yang masih muda sekalipun.
Gadis itu memeriksa dengan cermat dada, punggung, telinga, dan bagian tubuh lainnya. Merasakan tangan lembut gadis itu meraba-raba tubuhnya, hati Zhen Jin beriak.
Akhirnya Zi Di mendekatkan diri ke wajahnya, mengamati dengan saksama apakah ada yang tak wajar pada pupil pemuda itu. Jarak mereka begitu dekat hingga bisa saling merasakan hembusan napas. Napas gadis itu seolah membawa semacam aroma manis, membuat hatinya gatal geli hingga ia sedikit memalingkan kepala, menghindari menatapnya langsung.
Sementara Zi Di memeriksanya, ia pun mengamati dirinya sendiri. Kulit Zi Di berwarna gandum, sedangkan kulitnya putih bersih. Zhen Jin juga samar merasa bahwa meski tubuhnya tergolong tipis, ada kekuatan luar biasa yang bersembunyi di dalamnya.
Ia merentangkan sepuluh jarinya berulang kali, lalu mengepalkannya. Kemudian ia mengingat kembali adegan saat ia melemparkan serigala raksasa itu dengan satu tendangan, merasakan secara halus kekuatan yang tertidur di dalam tubuhnya. Kekuatan itu jelas bukan hal biasa.
"Baiklah." Gadis itu berhenti bergerak, melangkah mundur, dan menghela napas lega. "My Lord, saat ini tubuh Anda hanya menyisakan lebam-lebam lama. Dari yang terlihat, sepertinya tak ada masalah. Namun kondisi di sini terlalu buruk, jadi Anda hanya bisa menunggu sampai saya dapat melakukan pemeriksaan mendetail nanti."
Zhen Jin mengangguk lalu bertanya lagi, "Jadi apakah aku seorang magician? Kekuatan apa yang kumiliki?"
Zi Di menggeleng dan menjawab, "My Lord, Anda melatih battle qi. Anda adalah seorang Templar Knight."
"Templar Knight?" Pemuda itu seketika termangu. Tak lama kemudian, sebuah ingatan muncul dari kehampaan di dalam kepalanya.
* * *
Di dalam sebuah aula temple yang terang dan putih bersih, tempat sinar matahari menembus jendela-jendela kaca berwarna yang menjulang tinggi dan menerangi ruangannya, sekelompok pemuda berkumpul. Zhen Jin mendapati dirinya berada di antara mereka.
Suasananya luhur, khidmat, dan sedikit menggelora. Di sanalah Zhen Jin dan para pemuda lainnya mengucapkan sumpah bersama—
"Aku bersumpah, untuk menghormati dan mencintai dewa yang hidup, penguasa Empire yang agung, Emperor Sheng Ming!
"Aku bersumpah, untuk mengikuti jejak komandanku, untuk maju dengan gagah berani!
"Aku bersumpah, untuk melindungi orang-orang yang kucintai, untuk menantang segala bahaya!
"Aku bersumpah, untuk memperlakukan kawan-kawanku dengan iktikad baik, untuk menolak kepalsuan!
"Aku bersumpah, untuk setia dalam cinta dan bersama hingga maut, untuk tak pernah mengingkari!
"Aku bersumpah, untuk melawan ketidakadilan, untuk berbelas kasih kepada yang lemah!
"Aku bersumpah, untuk tetap adil, untuk menentang segala kedustaan!
"Mulai hari ini, aku adalah seorang Templar Knight!"
* * *
Ingatan itu berlalu sekejap saja.
"My Lord, apakah Anda mengingat sesuatu?" tanya Zi Di penuh harap, menyadari ada yang berbeda pada Zhen Jin.
Zhen Jin mengangguk. "Ya. Aku mengingat saat aku mengucapkan sumpah khidmat ketika menjadi seorang Templar Knight."
Mendengar itu, mata Zi Di berbinar. "My Lord, coba saja. Mungkin sekarang Anda bisa menggunakan battle qi?"
Zhen Jin mengepalkan tangannya dan mencoba mengingat. Sesaat kemudian, dahinya berkerut. Ia menggeleng dengan senyum pahit. "Tidak. Aku tak punya ingatan apa pun soal cultivation battle qi. Aku bahkan tak bisa merasakan jejak battle qi di tubuhku, dan aku tak tahu cara menggunakannya."
Sinar di mata Zi Di sedikit meredup, namun ia segera menghibur, "Mungkin waktunya belum tiba. Tapi tak masalah, Your Lordship. Setidaknya ini membuktikan ingatan Anda bisa pulih. Hanya… butuh waktu."
Zhen Jin mengangguk, membatin bahwa meski gadis di hadapannya ini lemah, ia optimistis dan gigih. Sejak ia bangun, gadis itulah yang terus menenangkannya.
Namun jejak air mata masih jelas membekas di pipi gadis itu. Semua kukunya terbelah dan sedikit mengeluarkan darah, dan kakinya telanjang karena ia belum punya waktu memakai botnya.
Meski Zi Di hanya menceritakannya secara singkat, Zhen Jin paham situasi sebelumnya benar-benar berbahaya—bisa dibilang menari di antara hidup dan mati. Yang paling patut dipuji adalah, sebahaya apa pun keadaannya, gadis itu tak pernah meninggalkannya saat ia tak sadarkan diri. Bahkan bisa dikatakan bahwa kesetiaannya tak tergoyahkan, sampai tak peduli pada nyawanya sendiri.
Sumpah Templar Knight itu masih bergema di telinganya.
Jadi aku ini seorang knight, seorang Templar Knight yang mulia!
Zhen Jin merasa kehormatan menyelubungi seluruh tubuhnya saat ia mengangkat kepala dengan hati yang penuh kebanggaan. Menatap Zi Di sekali lagi, kehangatan pun beriak di hatinya.
Kalau begitu, mulai sekarang biar aku yang menjagamu. Gadis bermata ungu yang kuat, … tunanganku.
Akhir Chapter 2
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *