When I Awoke
Book One: The Beast Knight
Sebuah hutan hujan yang rimbun. Cahaya matahari yang membakar menembus celah-celah kecil di antara lapisan dedaunan kanopi, menerangi tanah di bawahnya. Udaranya lembap dan menyengat. Curah hujan yang melimpah membuat vegetasi di sini tumbuh luar biasa subur—sulur-sulur saling membelit dan akar-akar bertumpang tindih, membentuk penghalang yang menyulitkan.
Zi Di berlari sekuat tenaga melintasi hutan hujan itu. Rambutnya hitam dan bergelombang, kulitnya berwarna gandum. Raut wajahnya yang halus membingkai kecantikan yang tak biasa, dan yang paling memikat adalah sepasang mata besar berwarna ungu—sejernih dan seindah batu amethyst.
Namun saat ini, mata itu hanya dipenuhi ketakutan dan kepanikan.
"Huff! Huff!" Mulutnya terbuka lebar, mengisap udara dengan rakus, dan dadanya sudah mulai terasa nyeri. Tubuhnya bermandikan peluh, penuh luka yang terbalut kain. Karena lariannya yang membabi buta, darah merah pekat merembes menodai balutan putih itu.
Lebih cepat, harus lebih cepat! Aku harus segera menjauh dari tempat ini!
Zi Di menyemangati dirinya sendiri. Namun ia tak mampu berlari lebih cepat, sebab ada seutas tali rami tebal yang melingkari pundaknya, menarik sesuatu yang berat. Beban itu benar-benar mengekang kecepatannya.
"Aaah!" Tiba-tiba sebuah pekikan panjang penuh derita bergema dari kejauhan. Tak lama kemudian, lolongan serigala menyusul.
Tubuh gadis itu berjingkat, seakan tersengat listrik.
Lalu, seperti cengkeraman kuku monster, rasa gawat dan panik mencekik jantungnya dengan brutal. Saat itu, hanya satu suara yang tersisa di kepalanya. Lari! Lari! LARI! Tinggalkan semuanya, jangan pedulikan apa pun lagi. Kalau tidak, kau akan mati dicabik serigala keji itu—sama seperti para pengawal yang dikoyak berkeping-keping, dikunyah menjadi bubur, lalu ditelan masuk ke perutnya!
Wajah gadis itu memutih bagai abu, dan pandangannya menyiratkan kengerian. Namun ketika matanya melirik ke belakang, tekadnya mengeras kembali.
Ujung tali rami yang ditariknya terikat kuat pada sebuah tandu. Di atasnya terbaring seorang anak lelaki. Entah karena sebab apa, kedua matanya tetap terpejam dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun dengan rambut pirang berkilau dan penampilan yang tampan, ia memancarkan aura bangsawan yang alami.
Pemuda itu tak lain adalah beban baginya. Masih menyeret beban yang lebih berat daripada tubuhnya sendiri di detik-detik yang menentukan hidup dan mati—itu sama saja dengan menggali kuburannya sendiri.
Menatap anak lelaki di atas tandu, Zi Di menggertakkan gigi dengan pahit. Lalu ia menekan kepanikan dan kegelisahan di hatinya, kembali menyeret tandu itu, melangkah teguh sambil menanggung tekanan kematian yang semakin mendekat.
Setelah menyibakkan sulur-sulur di hadapannya dan menerjang dinding-dinding perdu dengan tubuh mungilnya, belantara di sekitarnya mulai menipis dan merenggang, memperlihatkan langit biru.
Suara air mengalir menyentuh telinganya. Tak lama, sebuah sungai kecil muncul dalam pandangannya. Dari perkiraan sekilas, kedalaman airnya mungkin hanya sampai sebatas pinggangnya.
Tapi ia tak berani menyeberang begitu saja. Bahaya mengintai di setiap sudut pulau terisolasi ini. Aku sama sekali tak boleh menilainya dengan logika biasa. Aku hampir yakin sungai kecil ini menyembunyikan seekor buaya buas atau sekawanan besar piranha, pikirnya.
Semula ia dikawal oleh enam belas pengawal. Kini, tinggal ia dan pemuda ini. Sepanjang perjalanan, para pengawalnya tumbang mengorbankan diri satu demi satu—bukti nyata betapa mengerikan hutan di pulau terisolasi ini.
Sialan, kalau saja aku masih bisa menggunakan sihir…
Gadis itu mengamati sejenak. Sambil menggigit bibir, ia memutuskan untuk menyeberang. Di belakangnya, serigala raksasa itu pasti masih memburunya untuk menyantapnya, bagaikan penjelmaan dewa kematian.
Meski panik, gadis itu belum sepenuhnya kehilangan akal sehat; kepala dinginnya dan penilaiannya atas situasi masih terjaga. Ia menyeret tandu berat itu menyusuri tepi sungai. Tak lama, ia melihat sebatang pohon kecil yang tumbuh miring. Batangnya menjulur dari tepian ini, naik ke udara, lalu terulur hingga ke tepi seberang.
Setelah memeriksa dengan hati-hati, gadis itu memastikan tak ada ular berbisa maupun duri yang bersembunyi di pohon itu. Sayangnya, batangnya berlapis lumut dan lichen, membuat permukaannya teramat licin.
Bahkan jika hanya dirinya sendiri yang memanjat, sedikit saja lengah akan menjatuhkannya ke sungai. Apalagi dengan beban tambahan.
Mata pemuda di atas tandu terkatup rapat. Ia terbenam dalam koma. Mungkin… sebaiknya ia meninggalkan pemuda ini. Terlalu berisiko dan terlalu berat memikul orang yang tak sadarkan diri menyeberangi sungai.
Gadis itu menggertakkan gigi dan bergegas melepas tali rami dari tandu. Ia menggendong pemuda itu di punggungnya, lalu melingkarkan tali itu rapat-rapat mengikat tubuh mereka berdua. Setelah selesai, ia melepas botnya dan menyelipkannya ke celah antara tali dan tubuh mereka. Terakhir, ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menapaki batang pohon itu.
Aku bisa, aku bisa! Zi Di, oh Zi Di, kau tak boleh jatuh di sini. Kau adalah president Wisteria. Kau masih harus membalaskan kematian Ayah!
Gadis pemberani itu mengobarkan semangatnya sendiri. Dengan segenap upaya ia merayap di sepanjang batang pohon, maju sejengkal demi sejengkal, matanya menatap lurus ke depan, penuh keteguhan.
Akhirnya ia berhasil menyeberang. Karena berat dua orang menekan batang kecil itu, ketika ia mencapai tepi seberang, batangnya melengkung sampai menyentuh tanah. Itu justru memudahkannya mendarat. Setelah beban dua orang lepas, pohon itu melenting kembali ke atas, mengibaskan dahan dan dedaunannya, menimbulkan desau angin.
Menggendong pemuda itu telah menguras habis tenaganya. Ia terjatuh berlutut, menopang tubuhnya dengan kedua tangan, tak berdaya untuk bangkit. Wajahnya pucat pasi dan kepalanya sedikit berputar. Peluh menetes cepat dari ujung hidung dan dagunya, jatuh ke rerumputan yang bau.
Ia terengah beberapa saat sampai pusingnya perlahan mereda. Kegembiraan yang meluap menjalar di hatinya. Sulit dipercaya! Aku benar-benar berhasil! Aku benar-benar menyeberang!
Namun tak lama kemudian, ia merasakan tangan dan kakinya mulai menunjukkan tanda-tanda kesemutan. Akibat kelelahan akhirnya menyusulnya.
Sebuah lolongan serigala mendadak menggelegar, dan sebuah bayangan sebesar anak sapi melompat keluar dengan buas dari semak-semak lebat.
Tubuh dan pikiran gadis itu berguncang. Secara refleks ia berbalik, dan melihat seekor serigala raksasa berwarna biru gelap. Pupilnya menyempit; ia merasa seperti terjatuh ke dalam jurang es. Serigala itu menyingkap gigi-giginya yang masih menyelipkan serpihan daging segar. Matanya merah, dipenuhi hasrat membunuh yang lalim, terpaku pada gadis itu.
Gadis itu terjatuh ke semak-semak di tepian. Ia berbalik dengan begitu terburu-buru hingga lupa pemuda itu masih ada di punggungnya. Berat tubuhnya menciptakan inersia kuat yang menjatuhkan gadis itu ke tanah.
Kelemahan dan kondisi mengenaskan mereka justru semakin membangkitkan sifat bengis serigala itu. Meski demikian, serigala itu tetap bertahan di tepi seberang. Ia berjingkrak di tempat, mondar-mandir, dan menatap sungai yang mengalir bergemericik. Ketakutan terlihat jelas dari gerak-geriknya.
Melihat serigala bertingkah demikian, gadis itu langsung paham betapa bijak tindakannya tadi.
Sayangnya, serigala itu juga melihat batang pohon tersebut. Tanpa diduga, ia melakukan hal yang sama seperti gadis itu—menapak ke pohon yang membentang di antara kedua tepi sungai. Meski bertubuh berotot, serigala raksasa itu mengendalikan keseimbangannya dengan luar biasa, bahkan bergerak sedikit lebih cepat daripada gadis itu.
Di tengah keterkejutannya, gadis itu seolah tersengat listrik. Dengan panik ia mengeluarkan sebilah dagger, memotong tali yang mengikat tubuhnya, lalu bangkit dan menerjang batang pohon yang menjulur itu.
Batang pohon itu terhantam dan seketika bergoyang akibat tumbukannya. Meski ayunannya tak seberapa besar, itu sudah cukup mengganggu serigala raksasa tersebut.
Keseimbangannya kacau dan hampir tercebur ke sungai, memaksanya mundur ke tepian dengan menyedihkan. Serigala itu menggeram ke arah gadis itu, menyeringai memamerkan gigi-gigi tajamnya, amarahnya semakin memuncak.
Gadis itu girang karena berhasil menghentikan serigala raksasa itu—namun kegembiraannya seketika berubah menjadi penyesalan. Seharusnya aku membiarkan binatang terkutuk itu mencapai bagian tengah batang dulu, baru bertindak. Dengan begitu ia akan tercebur ke sungai!
Gadis dan serigala raksasa itu saling berhadapan dari dua tepian yang berlawanan. Serigala itu melolong tanpa henti dan menolak mundur.
Gadis itu terus mengawasinya, tak berani lengah sedetik pun. Selama serigala itu mencoba memanjat batang pohon, ia akan menghantamnya.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya menyimpulkan—tindakan gegabahnya tadi justru pilihan yang tepat. Ia tak bisa memperkirakan seberapa jauh serigala itu mampu melompat. Setelah merangkak melewati sebagian kecil batangnya, mungkin serigala itu bisa langsung melesat ke tepi seberang.
Dan bahkan jika ia berhasil mengguncangnya sampai jatuh ke sungai, entah apakah bahaya yang mengintai di dalam air akan bereaksi. Kalaupun bereaksi, entah pula apakah mampu menghentikan serigala itu. Jadi, langkah paling aman adalah tak memberinya kesempatan sama sekali. Selama ia berani menapak ke batang pohon itu, gadis itu akan berusaha sekuat tenaga mengganggunya.
Waktu bergulir. Serigala itu mencoba berkali-kali, namun tak pernah berhasil. Akhirnya, ia berbalik dengan penuh amarah dan hilang ke dalam rimbun belukar.
Gadis itu berdiri termangu. Butuh beberapa tarikan napas sebelum ia benar-benar sadar, lalu terjatuh ke tanah. Wajahnya yang mati rasa karena ketegangan perlahan melunak, dan seperti bongkahan es yang mencair, air mata mengalir di kedua pipinya.
Akhirnya, ia mendapatkan kesempatan hidup yang baru.
Gadis itu pun terisak dan tersedu. Kakinya terlipat, telanjang tanpa alas. Sampai sekarang ia belum punya waktu memakai kembali botnya. Karena memanjat pohon tadi, kakinya penuh lecet lebar. Semua kukunya pun terbelah hingga mengeluarkan darah. Ia menenggelamkan kepalanya di antara lipatan kakinya, pundaknya bergetar tipis mengikuti sedu sedannya yang tersendat.
Namun sesaat kemudian, seakan tersengat listrik, gadis itu tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya merah, bekas air mata jelas membekas di wajahnya, dan ekspresinya rumit—dipenuhi keterkejutan, keraguan, dan kepanikan.
Apa serigala itu benar-benar menyerah begitu saja? Mungkin. Tapi…
Mengingat kembali pengalaman-pengalaman mengerikan beberapa hari terakhir, gadis itu mulai merasa kemungkinan serigala itu belum menyerah justru lebih besar. Mungkin ia hanya berbalik masuk ke belukar untuk melumpuhkan kewaspadaanku. Mungkin saat ini juga ia sedang menyusuri sungai mencari jalan potong yang lain! Mungkin ia sudah menyeberang dan sedang melesat ke arah sini!
Dugaan itu membuat tulang-tulangnya terasa dingin.
Apa yang harus ia lakukan? Membawa pemuda itu dan memanjat kembali menyeberangi batang pohon? Bahkan jika mengabaikan fakta bahwa batang pohon itu berada cukup tinggi dari tanah—yang akan membuat pendakian sambil menggendong pemuda itu jadi teramat sulit—bagaimana kalau serigala itu masih ada di sisi sana?
Memanjat sampai ke tengah batang lalu bertahan di situ? Itu bahkan lebih mustahil. Terlalu menguras tenaga. Ia sangat paham kondisi fisiknya saat ini. Ia tak yakin bisa memanjat batang itu sekali lagi. Mengingat kembali penyeberangan tadi saja sudah membuat hatinya penuh syukur bercampur ketakutan yang membekas.
Terus menggendong pemuda ini? Jika serigala raksasa itu memburunya, itu jelas jalan buntu. Bahkan tanpa membawa apa pun, kecepatannya tak sebanding dengan serigala itu.
Kalau begitu, aku hanya punya satu pilihan terakhir!
Mata gadis itu berkilat dengan cahaya tekad yang tak tergoyahkan.
Ia bergegas kembali ke sisi anak lelaki itu, berlutut dengan satu kaki, lalu mengeluarkan sebuah kolom kristal berwarna putih susu dari balik pakaiannya. Gadis itu memusatkan jiwanya, mengerahkan segalanya untuk mengaktifkan kristal putih itu. Ia menggenggamnya kuat-kuat tepat di atas kepala pemuda itu, cukup lama tanpa bergerak.
Apa benar-benar tak akan berhasil? Tidak, ini harapan terakhirku. Meski tipis, meski hanya ada kemungkinan sekecil apa pun…
Hatinya semakin cemas, dan ia berbisik, "Cepat, cepat! Kumohon, aktiflah."
Seolah mendengar doanya, kristal putih susu itu mulai memancarkan kilau yang nyaris tak terlihat. Begitu gadis itu menangkap kerlip samar tersebut, wajahnya berbinar penuh kegirangan.
Berhasil! Selama tingkat sihirnya cukup tinggi, ia bisa menembus batasan sihir! Meski daya dan efeknya jauh berkurang…
Cahaya yang terpancar dari kolom kristal putih itu semakin lama semakin terang, lalu seperti air, ia memadat menjadi aliran cairan yang berpendar putih susu. Aliran kecil itu menetes ke dahi pemuda yang tak sadarkan diri, lalu secara ajaib melebur ke dalam kulitnya.
Dalam waktu singkat itu, karena bersusah payah mempertahankan kolom kristal, wajah Zi Di memucat sepenuhnya. Dahinya tak lagi berpeluh, dan tubuhnya terhuyung-huyung. Warna kolom kristal itu pun mulai memudar dari ujung atasnya, perlahan berubah menjadi batu kelabu.
Bertahan, aku harus bertahan, aku tak boleh berhenti di tengah jalan!
Zi Di memeras seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya, nyaris menghipnotis dirinya sendiri untuk terus menantang batas kemampuannya. Saat separuh kolom kristal itu kehilangan warnanya, ia sudah berada dalam kondisi setengah sadar. Hanya obsesinya yang menopangnya.
Aku harus membangunkanmu…
"Howl!" Sebuah lolongan serigala mendadak bergema, dan serigala biru raksasa yang tadi menghilang melesat keluar dari belukar lebat dengan kecepatan luar biasa.
Saat itu, seolah kematian benar-benar datang menjemputnya. Zi Di ketakutan, tubuhnya yang ringkih menggigil. Ketika ia mengangkat pandangannya secara refleks, wajahnya sudah dinaungi bayangan tubuh serigala itu. Serigala raksasa itu telah melompat ke udara dan menerjang turun ke arahnya.
Detik itu, waktu seakan melambat. Mulut serigala itu terbuka lebar, memamerkan taring-taring keji dan air liur yang menetes.
Apa aku akan mati di sini?!
Zi Di berusaha melawan, namun tubuhnya tak menuruti; seluruh tenaganya sudah terkuras habis.
Aku tak rela…
Ketika napas kematian yang pekat menyerbunya, mata ungu gadis itu menatap harapan terakhirnya—kolom kristal di tangannya. Dua pertiga bagiannya telah kehilangan kilau dan menjadi batu kelabu. Masih tersisa sepertiga.
Tak ada harapan lagi.
Dalam sekejap itu, wajahnya memutih saat seluruh tenaganya lenyap. Kepalanya tertunduk, matanya terpejam rapat. Namun tepat ketika ajalnya hampir tiba, sesuatu berguncang di tangannya.
Bang! Kolom kristal itu meledak menjadi kepingan yang tak terhitung jumlahnya.
Dengan bingung, gadis itu membuka matanya. Lalu ia melihatnya—pemuda itu terbangun.
Anak lelaki tampan berambut pirang dan bermata biru itu tiba-tiba berguling ke samping, lalu mengangkat kakinya dan melayangkan tendangan. Gerakannya anggun sekaligus bertenaga, lugas dan efisien. Meski tubuhnya tampak lemah, di detik itu ia menyingkap kekuatan yang buas.
Tendangan dahsyatnya mengibaskan hembusan angin. Serigala raksasa itu tak mampu mengelak dan menerima serangan itu tepat di badan. Lolongannya terhenti mendadak saat hantaman kuat itu melemparkannya jauh ke kejauhan.
Dengan kedua tangannya, pemuda itu memanfaatkan kesempatan untuk menopang tubuhnya, lalu menatap serigala itu dengan penuh amarah.
Pupil gadis itu sedikit menyusut, dan napasnya terhenti. Saat menatap punggung anak lelaki yang tipis dan ringkih itu, ia merasa seperti sedang menyaksikan puncak sebuah gunung menjulang naik.
Akhir Chapter 1
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *